Monday, January 05, 2009

Persalinan normal


Makanisme persalinan normal
A. Kala persalinan
Proses persalinan terdiri dari 4 kala yaitu :
Kala I : waktu untuk pembukaan serviks sampai menjadi pembukaan lengkap 10 cm
Kala II : kala pengeluaran janin, waktu uterus dengan kekuatan his ditambah kekuatan mengedan mendorong janin keluar hingga lahir.
Kala III : waktu untuk pelepasan dan pengeluaran uri
Kala IV : mulai dari lahirnya uri selama 1-2 jam.

1. Kala I (kala pembukaan)
In parto (partus mulai) ditandai dengan keluarnya lender bercampur darah (bloody show), karena serviks mulai membuka (delatasi) dan mendatar (effacement).darah berasal dan pecahnya pembuluh darah kapiler sekitar kanalis servikalis karena pergeseran ketika serviks mendatar dan terbuka.
Kala pembukaan dibagi atas 2 fase, yaitu :
a. Fase laten, dimana pembukaan serviks berlangsung lambat, sampai pembukaan 3 cm berlangsung dalam 7-8 jam.
b. Fase aktif, berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 subfase yaitu :
- Periode akselerasi
Adalah berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm.
- Periode dilatasi maksimal (steady)
Adalah selama 2 jam pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm
- Periode deselerasi
Adalah berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam pembukaan jadi 10 cm atau lengkap.
Fase 2 diatas dijumpai pada primigravida. Bedanya dengan multigravida :
- Primigravida
a. Serviks mendatar (effacement) dulu baru dilatasi
b. Berlangsung 13-14 jam
- Multigravida
a. Mendatar dan membuka bias bersamaan
b. Berlangsung 6-7 jam.

2. Kala II (kala pengeluaran janin)
Pada kala pengeluaran janin his terkoodinir, kuat, cepat, dan lebih lama, kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang panggul sehingga terjadinya tekanan pada otot dasar penggul yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Ibu merasa seprti buang air besar, karena tekanan pada rectum dengan tanda anus terbuka. Pada waktu his kepala janin mulai kelihatan, valve membuka dan perineum meregang. Dengan his mengedan yang terpimpin akan lahirlah kepala,
didiikuti oleh seluruh badan janin.


3. Kala III ( kala pengeluaran uri)
Setelah bayi lahir kontraksi rahim beristirahat sebentar. Uterus teraba keras dengan fundas uteri setinggi pusat, berisi plasenta yang menjadi tebal menjadi 2x sebelumnya. Beberapa saat kemudian dating his pelepasan dan pengeluaran uri. Dalam waktu 5-15 menit seluruh plasenta terlepas didorong kedalam vagina dan akan lahir spontan atau dengan sedikit dorongan diatas simfisis atau fundus uteri. Seluruh proses biuasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100-200 cc

4. Kala IV
Merupakan pengawasan 1 jam setelah bayi dan uri lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya pendarahan post partum.
Lamanya persalinan pada primi adalah 14,5 jam yaitu :
- Kala I selama 13 jam
- Kala II selama 1 jam
- Kala III selama 0,5 jam
Sedangkan lama persalinan multi adalah 7 3/4 jam yaitu :
- Kala I selama 7 jam
- Kala II selama 0,5 jam
- Kala III selama ¼ jam


B. Mekanisme persalinan
Pada minggu-minggu terakhir kehamilan segmen bawah rahim meluas untuk menerima kepala janin terutama pada primi dan juga pada multi pada saat-saat psrtus mulai. Untunglah hamper 96 % janin adalah letak kepala. Pada letak belakang kepala (LBK) dijumpai pula :
a. Ubun-ubun kecil kiri depan = 58%
b. Ubun-ubun kecil kanan depan = 23%
c. Ubun-ubun kecil kanan belakang = 11 %
d. Ubun-ubun kecil kiri belakang = 8 %
Ada bebarapa teori tentang kapala yaitu :
1. Teori akomodasi
Adalah bentuk rahim memungkinkan bokong dan ekstremitas yang volumenya besar berada diatas dan kepala dibawah diruangan yang lebih sempit.
2. Teori gravitasi
Karena kepala yang relative besar dan berat turun kebawah. Oleh karena his yang kuat, teratur dan sering, maka kepala janin turun memasuki pintu atas panggul (engagement) karena menyesuaikan diri dengan jalan lahir, kepala bertambah menekur (fleksi maksimal) sehingga lingkaran kepala yang memasuki penggul, dengan ukuran yang terkecil :
- Diameter suboccipito-bregmatika = 9,5 cm
- Sikumferensia suboccipito-breg = 32 cm


Tahapan dalam persalinan.
Tahap I : fase pemotongan/pembukaan leher rahim, tahap aal persalinan ini dimulai begitu sudah ada pembukaan leher rahim (diketahui dari pemeriksaan dalam oleh dokter/bidan) akibat his.
Tahap II : fase pengeluaran bayi saat ini, his sangat terasa sangat kuat, lebih sering, dan lebih lama ketimbang sebelumnya. Tahap ini dari pembukaan penuh sampai bayi lahir. Dalam tahap ini bayi lahir melalui mulut rahim ke vagina, lalu dikeluarkan.
Tahap III : pada tahap ini plasenta (jawa : ari-ari) akan terlepas dari dinding rahim. Prosesnya biasanya terjadi 15-20 menit setelah kelahiran bayi. Kontraksi rahim yang keras terus berlanjut setelah kelahira bayi dan akan menekan pembulhu darah. Mengurangi pendarahan dan mengeluarkan plasenta lepas dasri dinding rahim.
Tahap IV : Observasi setelah persalinan selesai dan plasenta sudah dilahirkan, ibu biasanya masih beritirahat di ruang persalinan hingga 1 jam setelah melahirkan.


Proses Penurunan Kepala dapat dibagi dalam :
1. Masuknya kepala kepintu panggul
2. Majunya kepala
Masuknya kepala ke dalam pntu atas panggul pada primi gravinda terjadi bulan akhir dan permulaan persalinan.
Masuknya kepala kedalam pintu atas panggul biasanya dengan sutra sagitarius melintang dengan fleksi yang ringan.
Kalau sutura sagitarius dalam diameter anteroposterior dari pintu atas panggul maka masuknya kepala lebih sukar.
Kalau sutura sagitarius di tengah-tengah jalan lahir diantara sympisis dan promontorium. Dikatakan kepala dalam “syncutismus”. Jika sutura sagitarius agak kedepan mendekati sympibis atau agak kebelakang mendekati promontorium maka kita hadapi “asyncutismus”. Pada pintu atas panggul biasanya kepala dalam asyncutimus posterior yang ringan.
Majunya kepala bersamaan dengan gerakan-gerakan fleksi,putaran paksi dalam, extensi
Yang menyebabkan majunya kepala :
- Tekanan cairan intrataurin
- Tekanan langsung fundus pada bokong
- Kekuatan mengejar
- Melurusnya badan anak perubahan bentuk rahim

FLEKSI
Diameter subocipto brengmatica = 9,5 cm menggantikan diameter subicipito frontalis 11 cm disebabkan oleh :
Anak didorong maju dan sebaliknya mendapat tahanan dari pinggir pintu atas panggul cervic, dinding pamnggul.

PUTARAN PAKSI DALAM
- Putaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan memutar kedepan, kebawah symdibin.
- Putaran paksi dalam tidak terjadi sendiri tetapi bersamaan dengan majunya kepala tidak terjadi sebelum kepala sampai ke hodge. Kadang-kadang setelah kepala sampai kedasar panggul.

SEBAB – SEBAB PUTARAN PAKSI
- Pada letak fleksi, bagian belakang kepala mepupakan nagian terendah kepala.
- Bagian terendah kepala mencari tahanan yang sedikit disebelah depan atas dimana terdapat hiatus genitalis.
- Ukuran terbesar dari bidang tengah panggul adalah diameter anterosperior.

EXSTENSI
Disebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengerah kedepan dan keatas kepala harus mengadakan ekstensi untuk melaluinya kalu tidak terjadi ekstensi kepala akan tertekan pada perium dan menembusnya.

PUTARAN PAKSI LUAR
Setelah kepala lahir, kepala anak memutar kembali kearah punggung anak untuk menghilangkan torsi. Pada leher yang terjadi karena putaran paksi dalam bagian belakang kepala berhadapan dengan tuber ischiadicum sefihak.

Expulsi
Setelah putaran paksi luar bahu depan sampai dibawah sympisis dan menjadi hypomochilon untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian bahu depan menyusui dan seluruh badan anak lahir searah paksi jalan lahir.

Letak Dan Presentasi Janin
Letak janin sering berubah – ubah didalam rahim. Hal ini karena selama berada di dalam rahim janin melakukan sejumlah aktifitas sesuai perkembangan kemampuannya bulan demi bulan. Karena itu letak janin sering berubah – ubah. Letak janin adalah istilah yang dipakai untuk bagaimana sumbu tubuh janin terhadap sumbu tubuh ibu.

Letak Janin dalam rahim dibagi menjadi tiga, yaitu :
- Letak Memanjang
 Dimana sumbu bayi sejajar dengan sumbu anda.
Posisi letak memanjang dibedakan lagi menhjadi :
a. Kepala berada di bagian bawah rongga rahim / janin
Letak memanjang presntasi kepala.
 Inilah letak janin yang bagus, karena akan memudahkan proses persalinan alami melalui jalan lahir. Ketika persalinan berlangsung kepala si kecil akan terdorong kea rah pintu jalan lahir. Bila kepalanya sudah dikeluarkan, maka seluruh bagian tubuh jadi mudah dikeluarkan.
b. Kepala berada di bagian atas rongga rahim ( janin letak memanjang presntasi sungsang )
 Letaknya bias bervariasi, ada yang bokong saja di bagian bawah rahim, dan ada pula yang kaki lebih dahulu.

- Letak Lintang
 Sumbu tubuh bayi melintang terhadap sumbu tubuh ibu, dengan kepala pada sisi yang satu dan bokong pada sisi lain.

- Letak Miring / Serong

5. Memahami pimpinan persalinan
a. Kala I
Pekerjaan bidan adalah mengawasi wanita in partu sebaik-sebaiknya serta menanamkan semangat diri kepada wanita ini : bahwa proses persalinan adalah fisiologis. Tanamkan rasa percaya diri dan percaya pada penolong. Pemberian obat atau tindakan hanya dilakukan apabila perlu dan ada indikasi. Apabila ketuban belum pecah wanita inpartu boleh duduk atau berjalan-jalan. Bila berbaring sebaiknya kesisi dimana punggung berada. Periksa dalam pervaginaan dilarang, kecuali ada indikasi, karena setiap pemeriksaan akan membawa infeksi, apalagi bila dilakukan tanpa memperhatikan sterilitas (asepsi). Dalam kala pembukaan dilarang mengedan. Biasnya kala I berakhir apabila pembukaan sudah lengkap sampai 10 cm.

b. Kala II
Pada permulaan kala II umunya kepala janin telah masuk dalam panggul bula ketuban menonjol biasanya akan pecah sendiri. Namun bila belum pecah, harus dipecahkan. His dating lebih sering, lebih kuat dan timbulah his mengedan, penolong harus telah siap untuk memimpin persalinan.
Ada 2 cara ibu mengedan :
1. Dalam letak berbaring merangkul kedua pahanya dengan kedua lengan sampai batas siku kepala diangkat sedikit sehingga dagu mengenai dada mulut dikatub.
2. Dengan sikap seperti diatas, tetapi badan meiring kearah mana penggul janin berada dan hanya satu kaki yang dirangkul, yaitu yang sebelah atas.

Episiotomy
Dilakukan kala perineum sudah menipis dan kepala janin tidak masuk lagi dalam vagina, yaitu dengan jalan mengiris atau menguntung perineum . menurut arah irisan adalah :
1. Medialis
2. Media-lateralis
3. Lateralis
Guna episofomi adalah agar tidak terjadi robekan-robekan perineum yang tidak teratur dan robekan pada m. sphincter ari yang bila terjadi terjahit dan dirawat dengan baik akan menyebabkan besar berak (inkontenensia alvi)

Ekspresi kriteller
Mendorong pada fundus uteri sewaktu ibu mengedan, tujuannya untuk membantu tenaga ibu melahirkan kepala. Cara itu kurang dibenarkan jika mau dilakukan, atonia uteri, trauma organ-organ dalam perut dan solutio plasentae. Parasat ritgen : bila perineum meregang dan menipis, maka tangan kiri penolong menekan bagian belakang kepala janin kearah anus tangan kanan diperinium.

Bayi baru lahir
Bayi baru lahir sehat dan normal akan segera menarik nafas dan menangis bergerak pada tangan dan kaki. Bayi diletakan dengan kepala deirendahkan kira-kira mamuat sudut 30 derejat dengan bidang datar, mulut dan hidung dibersihkan dan lender dihisap dengan penghisap lender.
Kala III pengawasan pada kala pelepasan dan pengeluaran uri ini cukup penting karena kelalaian dapat menyebabkan resiko pendarahan yang dapat membawa kematian. Kala II ini terdiri dari 2 fase :
1. Fase pelapasan uri
2. Fase pengeluaran uri

Mekanisme pelepasan uri
Kontraksi-kontraksi dari rahim akan mengurangi area dan uri, karena rahim bertambah kecil dan dindingnya bertambah tebal beberapa sentimeter, bagian yang longgar dan lemah dari uri pada dinding rahim disebabkan kontraksi-kontraksi tadi akan lepad mula-mula sebagian dan kemudian seluruhnya dan tinggal bebas dalam kavum uteri. Kadang-kadang ada sebagian kecil dari uri masih melekat pada dinding rahim.
1. Kustner
Meltakan tangan dengan tekanan pada/diatas simfisis, tali pusat ditegangkan , maka bila tali pusat masuk belum lepas diam atau maju sudah lepas.
2. Klein
Sewaktu ada his kita dorong sedikit rahim, bila tali pusat kembali belum lepas diam-turun lepas.
3. Strassman
Tegangkan tali pusat dan kerok pada fundus, bila tali pusat bergetar belum lepas tak bergetar sudah lepas
4. Rahim menonjol diatas simfisis
5. Tali pusat bertambah panjang
6. Rahim bundar dank eras
7. Keluar darah secara tiba-tiba.

1. Cara lepasnya uri
2. Schultze
- Lepasnya seperti kita menutup payung
- Cara ini yang terbanyak (80%)
3. Duncan
Lepasnya uri mulai dari pinggir
4. Serempak dari tengah dan pinggir plasenta
2. Fase pengeluaran uri
Uri yang sudah lepas oleh kontraksi-kontraksi rahim akan didorong kebawah yang oleh rahim sekarang dianggap sebagai benda asing. Hal ini dibantu oleh tekanan abdominal atau mengedan maka uri akan dilahirkan, secara spontan 20% dan selebihnya memerlukan pertolongan.
3. Pimpinan kala uri
Segera sesudah anak lahir, anak diurus dan tali pusat diklem. Biasanya rahim yang telah menyelesaikan tugas berat mengeluarkan anak, akan beristirahat beberapa menit. Dalam masa istirahat ini tugas kita adalah :
a. Memeriksa keadaan si ibu tentang:
- Status lokalis obstetric dengan palpasi fundus uteri dan konsistensinya
- Memeriksa keadaan vital ibu : tensi, nadi, dan pernafasan.
b. Mengawasi pendarahan
c. Mencari tanda-tanda pelepasan uri dan kalu sudah lepas segera melahirkannya.


Biasanya uri akan lahir spontan, bila kita sabar menunggu, dan bila sudah ada tanda-tanda lepasnya uri, plasenta segera dilahirkan dengan :
1. Menyuruh ibu mengedan
2. Tekanan pada fundus uteri

3. Metode crede

a. Empat jari-jari pada dinding rahim belakang, ibu jari difundus depan tengah
b. Lalu pijat rahim dan sedikit dorong kebawah tapi jangan terlalu kuat, seperti memeras jeruk
c. Lakukan sewaktu ada his
d. Jangan tarik tali pusat, karena bias terjadi inversia uteri.
Pengeluaran selaput ketuban :
1. Selaput janin biasanya lahir dengan mudah
2. Namun kadang-kadang selaput ketuban ini ada yang masih tertinggal, ini dapat dikeluarkan melalui jalan :
a. Manarik pelan-pelan
b. Memutarnya dan memilinnya selaput tali
c. Memutar pada klem
d. Manual dan digital.
Uri dan selaput ketuban harus diperiksa sebaik-baiknya setelah dilahirkan.
a. Lengkap
b. Tidak lengkap

Yang diperiksa yaitu :
a. Permukaan maternal : 6-20 kolifoden
b. Permukaan fetal
c. Apakah ada tanda-tanda plasenta suksenturiata




Kala IV (kala pengawasan)
Darah yang keluar harus ditukar sebaik-baiknya, kehilangan darah pada persalinan biasanya disebabkan oleh ;
a. Luka pada pelepasan uri
b. Robekan pada serviks dan perineum
Sebelum ibu meninggal ibu melahirkan. Periksa ulang dulu dan perhatikan 7 pokok penting :
1. Kontraksi rahim
2. Pendarahan
3. Kandung kemih
4. Luka-luka
5. Uri dan selaput ketuban harus lengkap
6. Keadaan umum ibu : tensi, nadi, pernapasan, rasa sakit
7. Bayi dalam keadaan baik
Rupture perinea
Defenisi ; robekan yang terjadi pada perineum sewaktu persalinan.
Reptura perinea dibagi 3 tingkat ;
1. Tingkat I : robekan hanya mengenai kulit dan mukosa sekitar 1-11/2 cm
2. Tingkat II : robekan lebih dalam sudah mengenai M. levator ani
3. Tingkat III : robekan pada kulti, mukosa, perineal body
Yang menyebabkan rupture perinea :
1. Partus presipitatus
2. Kepala janin besar dan janin besar.

Penanganan
a. Mencegah luka yang jelek dan pinggir luka yang tidak rata dan kurang bersih pada beberapa keadaan dilakukan episiotomis dan pada keadaan lain dengan pimpinan persalinan yang baik.
b. Bila dijumpai robekan perineum dilakukan penjahitan luka dengan baik lapis demi lapis
c. Berikan antibiotika yang cukup
d. Luka perineum lama (old perineal tear) : lakukan penrioneplastik dengan membuat luka baru dan menjahitnya kembali sebaik-baiknya.

Monitoring Keadaan Janin Selama Persalinan

Pemantauan Janin ( Feal Monitoring )
 Yaitu kegiatan mengawasi, menyelidiki, menentukan apakah janin berada dalam keadaan sakit atau tidak, serta apakah ada keadaan yang mungkin mempengaruhi. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk mendeteksi dini ada / tidaknya faktor – faktor resiko kematian perinatal tersebut.

Cara – cara Pemantauan Kesejahteraan Janin.
a. Perkiraan pertumbuhan Janin dan tinggi fundus uteri terhadap usia kehamilan.
Syarat pemeriksaan tinggi fundus :
- Vesika urinaria dan rectum idealnya dalam keadaan kosong
- Diukur dengan pasien keadaan telentang , pada keadaan uterus tidak kontraksi, dari tepi atas simfisis sampai fundus.
b. Auskultrasi denyut jantung janin
 Dengan alat Leannec atau Doppler atau dengan CTG / cardiotokografi. Ideal perhitungan frekuensi jantung dilakukan 1 menit penuh. Jika ada alat CTG, bias direkam untuk 10 menit. Normal frekuensi denyut 120 – 160 kali / menit, dan meningkat pada saat kontraksi.
c. Ultra sonografi ( USG )
 Ideal untuk pemeriksaan trimester pertama sampai ketiga.
USG dapat menilai :
- Kantong Gestasi
 Jumlah, ukuran, lokasi, bentuk, keadaan
- Janin
 Hidup / mati, jumlah, presentasi, perkiraan usia gestasi melalui biometri janin, pertumbuhan & kelainan bawaan.
- Tali Pusat
 Jumlah pembuluh darah, sirkulasi.
- Membran / cairan amnion
 Keadaan dan jumlah
- Plasenta
 Lokasi, jumlah, ukuran, maturasi, insersi
- Keadaan Patologik
 Kehamilan ektopik, mola hidatidosa, tumor, inkompetensia, serviks.
d. Pemantauan aktifitas / gerakan janin.
 Dapat dilakukan secara subjektif dan objektif
Subjektif : menanyakan langsung kepada ibu.
Objektif : palpasi atau USG
Normal gerakan janin dirasakan oleh ibu sebanyak lebih dari 10 kali / hari yaitu pada usia diatas 32 minggu.
e. Pengamatan Mukoneum dan Cairan Ketuban
 Caranya dengan amniocentesis atau amnioskopi. Pada keadaan normal otot sfingter ani janin berkontraksi, mekoneum tidak keluar, tidak bercampur dengan cairan ketuban sehingga cairan ketuban tetap jernih. Pada hipoksia akut, terjadi hiperperitaltik otot 2 tubuh janin, tetapi terjadi juga relaksasi sfingter ani sehingga mekoneum akan keluar dan bercampur dengan cairan ketuban, menyebabkan warna kehijauan. Pada infeksi terjadi juga koloni kuman dalam selaput dan cairan ketuban ( korioamnionitis ), menyebabkan juga warna keruh atau kehijauan.
f. Pengamatan hormone yang diproduksi oleh plasenta.
 Estriol dan Human Placenta Lactogen ( HPL ) adalah hormone plasenta spesifik yang dapat diperiksa kadarnya pada darah ibu untuk menilai fungsi plasenta. Jika abnormal berarti terjadi gangguan fungsi plasenta dan berakibat resiko pertumbuhan janin terhambat sampai kematian janin.
g. Pemeriksaan Darah Dan Analisis Gas Darah Janin
 Pengambilan sampel darah bias dari tali pusat atau dari kulit kepala janin
h. Kardiotografi ( CTG )
 Menggunakan dua electrode yang di pasang pada fundus dan pada lokasi punctum maximum denyut jantung pada perut ibu. Dapat menilai aktifitas jantung janin pada saat his/ kontraksi maupun pada saat diluar his, tindakan ini juga menilai hubungan antara denyut jantung dan tekanan intrauterine.
• Janin Normal
 Pada saat kontraksi, jika frekuensi denyut jantung tetap normal atau meningkat dalam batas normal berarti cadangan oksigen janin baik.
• Janin Hipoksia
 Tidak ada akselerasi pada saat konstraksi justru terjadi deselerasi / perlambatan, setelah konstraksi kemudian mulai menghilang. JIka ada deselerasi dini dalam batas normal, maka observasi. Kemungkinan akibat turunnya kepala atau reflex vasovagal.

FISIOLOGI NIFAS
Masa puerperium atau masa nifas
Mulai setelah persalinan selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan.
Perubahan – perubahan pada alat genetalia interna + eksterna secara keseluruhan disebut involusi. Disamping involusi terjadi juga hemokonsentrasi dan laksati.
Setelah janin lahir, besar rahim kira –kira setinggi pusat ibu, segera setelah plasenta lahir, tinggi besar rahim lebih kurang setinggi 7 cm di atas tulang kemaluan atau setengah jarak tulang kemaluan –pusat, sesudah 12 hari rahim tidak dapat diraba lagi di atas tulang kemaluan.

HEMO KONSENTRASI
Pada masa hamil didapat hubungan pendek yang dikenal sebagai shunt antara sirkulasi ibu dan plasenta. Setelah melahirkan, shunt akan hilang dengan tiba – tiba. Volume darah pada ibu relative akan bertambah. Keadaan ini menimbulkan beban pada jantung sehingga dapat menimbulkan dekompensasi kordir pada penderita – penderita vitium kordis. Keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme dengan timbulnya hemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sedia kala. Umumnya hal ini terjadi pada hari – hari ke 3 sampai 15 hari postpartum.
LAKTASI
Sejak kehamilan muda, sudah terdapat persiapan –persiapan pada kelenjar – kelenjar mamona untuk menghadapi masa laktasi ini. Perubahan yang terjadi pada kedua mamma adalah :
1. Proliferasi jaringan, terutama kelenjar – kelenjar di alveolus mamma & lemak
2. Pada duktus laktifenus terdapat cairan yang kadang – kadang dapat dikeluarkan, berwarna kuning ( kolostrum )
3. Hipervaskularisasi terdapat pada permukaan maupun pada bagian dalam mamma. Pembuluh Vena berdilatasi & tampak dengan jelas. Tanda ini merupakan pula salah satu tanda tidak pasti untuk membantu diagnosis kehamilan
4. Setelah partus, pengaruh menekan dari estrogen dan progesterone terhadap hipofisis hilang.
Pengaruh hormon – hormon hipofisis kembali muncul, yaitu : Lactogenic hormon. Pengaruh oksitosin mengakibatkan kelenjar – kelenjar susu berkontraksi. Sehingga terjadi pengeluaran asi. Umumnya produksi asi yang sebetulnya hari ke 2 – 3.
Rangsangan Pakis merupakan reflex dari mata ibu ke otak, mengakibatkan oksitosin dihasilkan. Sehingga ASI dapat dikeluarkan dan sebagai efek sampingan rahim menjadi semakin keras berkontraksi dengan member ASI akan bertambah rasa kasih saying antara ibu dan anak.

Pemeriksaan laboratorium
1. Air kencing
Adanya glucose dalam urin prang hamil harus dianggap sebagai gejala penyakit diabetes kecuali hal lain yang menyebabkannya.
Pada akhir kehamilan dan dalam nifas reaksi reduksi dapat menjadi positif oleh adanya lactose dalam air kencing. Zat putih telur dalam air kencing pada nefritis, toxaemia gravidarum dan radang dari saluran kencing.
2. Darah
Dari darah perlu ditentukan HB, sekali 3 bulan karena pada orang hamil sering timbul anemia karna difesiensi Fe
Golongan ditentukan supaya kita cepat dapat mencairkan darah yang cocok jika penderita memerlukannya.

Tulisan kebidanan lainnya



Kunjungi juga

No comments: